<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=7918428799256825745&amp;blogName=The+Complicated+But+Simple+World+of+Mine&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fleipzic.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fleipzic.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
To show my thoughts, to give a new perspective, to send feelings, to deliver love, to attach peace, to create dignity, to find wisdom, to sow a new life and to bring God's Kingdom!

The Complicated But Simple World of Mine

leipzic

About Me

Click to view my Personality Profile page

My Gallery

  Lesson Of Life: Lingkungan Pertumbuhan

Tuesday, November 24, 2009

Dalam setiap kehidupannya, manusia ternyata benar-benar adalah makhluk hidup yang murni. Ia membutuhkan suatu tempat untuk dapat tumbuh, yang bernama lingkungan. Setidaknya itulah yang kualami akhir-akhir ini.
Jika diibaratkan seperti tanaman, manusia juga membutuhkan lingkungan yang cocok untuk ia dapat bertumbuh. Jika mawar membutuhkan banyak perawatan untuk dapat tumbuh dengan subur, mulai dari air, pupuk dan tanah yang subur, kaktus justru tidak terlalu banyak membutuhkan sentuhan perawatan. Artinya, Tuhan telah menciptakan masing-masing tumbuhan untuk berada pada tempatnya tertentu, untuk mewarnai tempat itu.
Demikian juga manusia, tiap orang akan membutuhkan tempatnya sendiri untuk dapat bertumbuh dengan maksimal. Diriku sendiri, saat ini seperti sedang dicabut dari lingkunganku yang lama. Sangat sakit memang, karena ibarat tumbuhan, diriku telah berakar dengan sangat kuat di lingkungan yang lama. Tapi, sepertinya Tuhan berkata, “Sudah cukup, ini waktunya kamu pindah tempat, anakKu”.
Banyak hal yang terjadi, orang yang mengetahui secara sepihak mungkin akan bilang bahwa apa yang aku lakukan tidak lebih dari sekedar orang yang lari dari masalah dan mencapku sebagai orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Tapi, di tengah masalah yang terjadi, dengan sangat jelas aku jadi mengetahui tentang kebenaran mengenai lingkungan pertumbuhan ini.
Setidaknya 2 kali Tuhan memberitahuku dengan cukup jelas. Yang pertama waktu aku kuliah MSDM (Manajemen SDM), dosenku (Pak Jangkung Karyantoro) berkata bahwa tiap orang memerlukan suatu kondisi lingkungan yang mendukung untuk ia dapat bertumbuh. Yang kedua waktu aku membaca buku dari John Maxwell yang berjudul “Make Today Count”. Ia mengatakan hal yang sama persis.
Artinya, sesuai dengan tujuannya masing-masing, tiap orang akan membutuhkan suatu lingkungan tertentu sehingga ia dapat bertumbuh dengan maksimal. Setiap lingkungan memiliki keunikan tersendiri. Ada yang keras, tapi ada juga lingkungan yang supportif. Semuanya tergantung keunikan kita masing-masing.
Diriku sendiri seperti sebuah tanaman yang awalnya ditaruh di greenhouse, dan kemudian dicabut. Sepertinya Tuhan berkata, “Sudah cukup masa kenyamananmu, ini saatnya kamu berperang di tanahmu yang sebenarnya”. Dan, inilah aku, menjadi orang yang completely different, terutama cara berpikir. Memang, waktu proses pencabutan, sangat sakit rasanya. Bahkan selama 2 minggu aku hampir tidak bisa melakukan apa-apa, seperti orang yang linglung (teman-teman sering memanggilku lang ling lung, yang diambil dari cerita Donald Bebek).
Menurutku, kita tidak bisa menentukan lingkungan kita. Yang bisa kita lakukan adalah, yang pertama menjadi bertumbuh sesuai lingkungan kita. Saat kita bertumbuh menjadi cantik, kita akan bertemu dengan kesempatan-kesempatan baru. Itulah yang dinamakan menciptakan kesempatan. Artinya, daripada susah-susah ingin mengubah lingkungan kita, justru kita yang harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kita dan bertumbuh sesuai ciri-ciri keadaan lingkungan tersebut.
Namun, kita juga punya pilihan yang kedua, yang mungkin tidak dimiliki makhluk hidup lainnya. Yaitu memilih lingkungan kita sendiri. John Maxwell bahkan berkata bahwa jika ada suatu hal yang membuat kita merasa tidak nyaman, maka tinggalkanlah itu (ditulis dengan bahasaku sendiri). Carilah (bukan buatlah) suatu lingkungan yang supportif bagi pertumbuhan kita.
Menurutku, bukan aku sendiri yang mencari lingkunganku, tapi benar-benar ada campur tangan Tuhan. Karena, jika harus memilih, mungkin aku akan memilih untuk tinggal di lingkungan lamaku, karena sangat banyak orang yang aku kasihi di sana. Dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, bahwa ada suatu hal yang kelihatannya sangat buruk terjadi dalam hidupku, tapi ternyata semuanya membawa kebaikan.
Sama seperti sebuah periuk yang dirombak total oleh penjunannya (pengrajin tanah liat), demikian seluruh kehidupanku dirombak, termasuk karakter-karakterku, sehingga menjadi seseorang yang baru. Aku percaya bahwa apa yang aku alami sekarang adalah yang terbaik untukku. Saatnya menyongsong hari depan. Dengan tuntunan Tuhan, kita akan melakukan perkara-perkara besar!

(Gambar dari gadaa.com)

Labels: , ,

Author: leipzic » Comments:

  True Form of Faith

Sunday, November 8, 2009

Artinya dalam bahasa Indonesia adalah "bentuk sebenarnya dari iman". Mengapa topik ini diangkat? Tidak lebih adalah karena pentingnya iman bagi kehidupan manusia. Ibrani 11:1 berkata,
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."
Bahkan keseluruhan pasal 11 dari Ibrani membahas tentang iman. Banyak orang berkata tentang iman. Roma 1:17 berkata,
"Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Namun, apa sebenarnya iman itu? Bagaimana iman diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Ada yang berkata bahwa iman adalah percaya kepada Tuhan. Ada yang berkata bahwa iman berarti percaya meskipun tidak melihat. Tapi kepercayaan seperti apa?
Pada dasarnya ada 1 hal yang sangat sederhana, yang jika kita lakukan maka sebenarnya kita telah melakukan tindakan iman. Yaitu ketaatan! Suatu hal yang sangat sederhana, namun sangat tepat untuk mempraktekkan sebuah tindakan iman. Pada dasarnya, tidak ada ketaatan tanpa kepercayaan. Hanya dengan kepercayaan kepada Tuhan seseorang dapat memiliki iman.
Bahkan bisa dikatakan bahwa seseorang yang taat, maka ia pasti beriman, namun seseorang yang mengatakan bahwa ia beriman tanpa menunjukkan bukti ketaatannya maka sebenarnya ia tidak beriman. Ya, jika kita beriman maka kita pasti taat. Jika kita beriman, maka kita pasti melakukan apa yang Tuhan mau.
Taat kepada Tuhan memang tidak mudah. Ada banyak hal yang harus kita korbankan, terutama kesenangan pribadi kita. Tapi ketaatan adalah sesuatu yang sangat mendasar, sebuah kata yang sederhana, namun harus dilakukan untuk menjadi dewasa. Tidak ada kedewasaaan tanpa ketaatan, tidak ada kemenangan tanpa ketaatan. Meskipun susah, tapi harus dilakukan. Kita harus mampu menundukkan keinginan kita di bawah keinginan roh, karena tanpa itu, kita tidak akan mungkin untuk mewujudkan kehidupan yang berkemenangan. Selamat hidup berkemenangan dengan taat.

(Gambar dari blackandwhitecat.org)

Labels: , , ,

Author: leipzic » Comments:

  Kemunculan Ide-ide Itu

Saturday, November 7, 2009

Akhirnya, moodku untuk menulispun tiba. Apa yang akan aku tulis sebenarnya sudah aku rasakan bertahun-tahun. Hal ini tentang bagaimana aku bersaat teduh. Kadang-kadang, saat aku berdoa, pikiranku akan sangat aktif untuk berpikir tentang hal-hal yang sedang aku alami. Terus terang, aku merasa cukup bersalah dengan kejadian itu, karena mengapa pada saat aku berdoa, justru aku tidak bisa memusatkan pikiranku kepada Tuhan.
Di saat-saat yang lalu, bahkan jika hal ini terjadi, aku akan menghentikan doaku dan memilih untuk melakukan hal-hal yang lain. Cukup lama rasanya sebelum aku mendapatkan pengertian tentang apa yang aku alami ini. Tapi, beberapa waktu terakhir ini aku jadi mengerti bahwa apa yang aku alami ini justru bukanlah sesuatu yang negatif. Karena, setiap kali aku berpikir, selalu saja ada ide baru yang muncul tentang apa yang harus aku lakukan.

Misalnya, jika suatu masalah terjadi, tiba-tiba aku mendapatkan ide tentang bagaimana aku harus menyelesaikan masalah itu. Atau kadang ide itu muncul waktu aku berpikir tentang masa depanku, bagaimana aku harus menatanya dengan baik, tentang pekerjaanku, tentang kehidupan pribadiku, dan banyak hal lainnya.
Sekarang, aku tidak lagi berpikir bahwa apa yang aku alami adalah sesuatu yang buruk, karena justru banyak hal yang aku dapatkan. Aku jadi ingat bahwa saat kita dekat dengan Tuhan, maka akan ada banyak berkat yang kita terima. Dan salah satunya adalah ide. Berkat tidak hanya berupa materi secara langsung, tetapi hikmat dan pengertian juga termasuk berkat dari Tuhan. Aku sangat bersyukur, karena Amsal berkata bahwa kita harus terus mencari hikmat dan pengertian, karena ia sangat berharga, bahkan lebih berharga dari emas dan perak. Dan aku mendapatkannya saat aku berhubungan dengan Tuhan, saat aku memberikan waktuku secara khusus buat Tuhan.
Ada banyak orang sangat kesulitan dalam menemukan hikmat dan pengertian, namun dalam kehidupanku, ide itu muncul seperti air sungai yang meluap setiap kali musim hujan datang. Hal ini membuatku hidup dengan lebih semangat, karena bagi aku, ide baru membuat sebuah perbedaan, dan aku orang yang tidak dapat hidup dalam kemonotonan. Jadi, jika butuh ide baru, hikmat dan pengertian, langsung saja datang pada sang pemiliknya.

(Gambar dari uzfiles.com)

Author: leipzic » Comments:

  Lesson Of Life: Waktu

Monday, October 26, 2009

Kita semua tahu bahwa kalau ada 1 hal di dunia ini yang tidak bisa dikuasai oleh manusia adalah waktu. Dan akhir-akhir ini, aku benar-benar belajar untuk menanganinya. Waktu telah menjadi sesuatu yang begitu berharga buat aku. Terutama pekerjaan dan kuliahku yang begitu menguasai waktuku. Mungkin ilustrasi yang aku ambil dari email temanku ini bisa jadi contoh.

Alkisah Tuhan menciptakan manusia dengan jatah umur 20 tahun. Tapi binatang-binatang rata-rata 40 tahun. Itu karena Tuhan ingin manusia bahagia saja sepenuhnya dan tidak usah merasakan pahitnya dunia terlalu lama. Manusia ini pun diletakkan Tuhan didekatNya.
Ternyata, beberapa binatang merasa iri dan ingin seperti manusia. Datanglah Sapi,
"Tuhan terlalu lama 40 tahun bagiku, kukembalikan 20 tahun". Mendengar itu ... manusia yang merasakan kebahagiaan ... ingin lebih panjang kebahagiannya .... dimintanya yang 20 tahun dari sapi untuk dirinya. Tuhan mengabulkan.
Lalu datanglah Anjing. Dia juga mengembalikan yang 20 tahun ... maka sekali lagi manusia memintanya.
Terakhir monyet datang. Dia juga mengembalikan 20 tahun umurnya .... dan sekali lagi manusia memintanya.
Maka jadilah yang diminta manusia itu :
20 tahun pertama hidup sebagai manusia, berbahagia, gak banyak masalahnya
20 tahun kedua hiduplah manusia itu seperti sapi ... bangun pagi pulang malam, kerja keras, banting tulang .... hasil ... hmmm terbatas (7 p) PERGI PAGI PULANG PETANG PENGHASILAN PAS-PASAN)
20 tahun ketiga jadilah dia seperti anjing. Anak mulai gede ... kerjanya jaga anak, jaga kekayaan, jaga properti .... persis kaya anjing
20 tahun keempat jadilah dia seperti monyet. Tua renta, hanya jadi bahan lelucon yang lebih muda ...
Maka kalau anda ingin terus jadi manusia sampai akhir hayat ingatlah kata-kata ini :
"BUKAN MASALAH PANJANGNYA UMUR, TETAPI MASALAH MEMBERI MAKNA DALAM TIAP HARI KEHIDUPAN"


Thanks to Bro Lukas atas emailnya. Hampir saja aku terjebak di dalam rutinitas pekerjaanku dan menempatkannya sebagai yang terutama di dalam hidupku, mengalahkan segalanya. Untunglah ada rentetan kejadian yang membuatku memutuskan untuk tidak melakukannya, mulai dari waktu nonton TV ada yang mengatakan tentang membagi waktu, juga waktu kuliah, sang dosen MSDM dengan sangat bijaksana mengatakan bahwa hidup ini tidak hanya terdiri dari pekerjaan saja, dan kalau demikian, mengapa kita mengorbankan hidup kita untuk pekerjaan kita, juga sharing dari beberapa teman, dan baru saja aku membaca buku yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun oleh my best friends (thanks to Ko Vid, Ce Otha n C Anna), sebuah buku karangan John C. Maxwell yang berjudul 'Make Today Count'.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengatur waktuku sebaik mungkin sehingga segala aspek yang ada di dalamnya bisa terlingkupi dengan baik. Ya, memang waktu tidak bisa kita kuasai, tapi kita bisa mengatur dengan baik semua kegiatan kita untuk mengisi waktu kita. "Setiap keputusan kita akan menghasilkan rentetan kejadian yang akan menuntun kita kepada akibat dari keputusan kita." Itulah yang aku katakan kepada salah satu temanku. Ini hanya masalah keputusan.

Labels: ,

Author: leipzic » Comments:

  Beristirahat di Samping Bapa

Friday, October 2, 2009

"Namun jika imam ini mempersembahkan korban untuk selamanya demi menebus dosa, Dia duduk di sebelah kanan Allah" (Ibr 10:12 NIV)

Saat kita meninjau kembali segala perabot yang ada di ruang kudus Kemah Suci, kita akan melihat adanya meja-meja, lampu-lampu, dan roti. Namun, kita tidak akan mendapati adanya kursi. Mengapa? Hal ini karena Kemah Suci adalah tempat para imam bekerja, selalu keluar masuk, selalu bergerak dan melakukan tugasnya. Tugas para imam ini tidak akan pernah habis.
Namun, berbeda dengan apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus. Dia telah mempersembahkan diriNya sendiri untuk selamanya demi menebus semua dosa, termasuk dosa kita. Dia duduk. Dia telah melakukan tugasNya, sekali untuk selamanya. Tersedia kemenangan yang menentukan dan sekarang Ia duduk bersama BapaNya, menyaksikan hasil dari kemenanganNya atas iblis.
Artinya, jika Yesus saat ini dapat duduk di hadirat Allah, demikian juga kita harus dapat melakukan yang sama. Ingat, kita sudah menerima korban keselamatanNya sebagai milik kita sendiri. Kita tidak perlu melakukan apapun untuk menambahkan sesuatu ke dalamnya. Hanya berada dekat dengan Allah, itulah yang dapat kita lakukan, karena tujuan penebusan dosa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pun adalah untuk mengembalikan hubungan antara Allah dengan manusia. Jangan sia-siakan itu.

(Disadur dari buku Focus on Jesus oleh Donald R. Jacobs)

Labels: ,

Author: leipzic » Comments:

My Home

Quotation of the Day

 

Welcome, Friends! Please give a track here!